30 | Mei | 2026

Paok Delima Memikat, Burung Cantik Pemalu yang Kini Terancam Punah

Bukit Lawang – Paok delima menjadi salah satu burung hutan paling menarik di Asia Tenggara. Burung bernama ilmiah Erythropitta granatina ini dikenal karena perpaduan warna bulunya yang mencolok dan suara kicauannya yang khas. Meski memiliki penampilan indah, paok delima justru termasuk burung yang pemalu dan jarang terlihat di alam liar.

Ukuran paok delima tergolong kecil. Panjang tubuhnya hanya sekitar 15 sampai 16 sentimeter dengan berat antara 53 hingga 70 gram. Namun, warna tubuhnya membuat burung ini mudah dikenali. Bagian perut dan kepala atas berwarna merah terang, dada hitam, sedangkan punggung dan sayap didominasi warna biru dengan corak putih.

Hidup di Hutan Asia Tenggara

Paok delima hidup di kawasan Asia Tenggara. Persebarannya meliputi Semenanjung Malaysia, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, hingga beberapa pulau kecil di sekitarnya. Burung ini tidak termasuk spesies migrasi dan menetap di habitat yang sama sepanjang hidupnya.

Habitat favorit paok delima adalah hutan dataran rendah dengan vegetasi rapat. Burung ini juga dapat ditemukan di hutan sekunder dan rawa yang masih memiliki pepohonan untuk tempat bertengger dan berlindung. Paok delima paling nyaman hidup pada ketinggian 0 hingga 600 meter di atas permukaan laut.

Burung Omnivor yang Sering Berjalan di Tanah

Burung ini termasuk hewan omnivor. Mereka memakan buah-buahan dan biji-bijian yang tersedia di hutan. Untuk sumber protein, burung ini berburu serangga, semut, kumbang, kecoak, hingga siput kecil.

Menariknya, paok delima lebih sering bergerak di atas tanah dibanding bertengger di pohon. Karena itu, spesies ini dikenal sebagai burung terestrial. Meski begitu, mereka tetap terbang ke pohon untuk beristirahat dan menghindari predator.

Aktivitas mencari makan biasanya berlangsung pada siang hari saat matahari terbit hingga sore. Pola ini membuat paok delima masuk kategori hewan diurnal.

Suara Merdu Jadi Senjata Mencari Pasangan

Selain warna tubuhnya, burung ini terkenal karena suara kicauannya. Burung dari famili Pittidae ini memiliki suara menyerupai peluit panjang yang terputus-putus.

Kicauan tersebut dipakai untuk memanggil sesama paok delima, terutama saat musim kawin. Suara lain yang sering terdengar antara lain “keow”, “keew”, “skyeew”, dan “eeyow”.

Baik jantan maupun betina sama-sama aktif berkicau ketika memasuki musim berkembang biak. Semakin dekat musim kawin, suara mereka semakin sering terdengar di dalam hutan.

Musim Kawin Berlangsung Hingga Agustus

Musim kawin burung ini berlangsung dari Maret hingga Agustus. Setelah menemukan pasangan, kedua induk akan bekerja sama membangun sarang dekat permukaan tanah.

Betina biasanya menghasilkan dua butir telur. Masa inkubasi berlangsung sekitar 14 sampai 18 hari. Setelah telur menetas, kedua induk bersama-sama mencari makanan untuk anak mereka.

Hingga kini, peneliti belum mengetahui secara pasti usia rata-rata paok delima di alam liar maupun kapan anak burung ini mampu hidup mandiri.

Populasi Terus Menurun dan Hampir Terancam

Keberadaan burung ini kini semakin mengkhawatirkan. IUCN Red List memasukkan spesies ini ke kategori hampir terancam atau Near Threatened.

Penurunan populasi terjadi akibat kerusakan hutan yang semakin luas. Penebangan liar dan kebakaran hutan menjadi ancaman utama bagi habitat paok delima.

Bahkan, burung ini sudah menghilang dari beberapa wilayah yang dahulu menjadi habitatnya, seperti Thailand, Myanmar, dan Singapura. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan hutan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan hidup paok delima di alam liar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Burung Langka Gunung Leuser Jadi Harta Alam yang Kian Terancam

Bukit Lawang - Taman Nasional Gunung Leuser menjadi salah satu benteng terakhir bagi ratusan spesies burung langka di Sumatra. Kawasan hutan tropis ini tercatat...