30 | Mei | 2026

Bukit Lawang Disorot, UMKM Wisata Dinilai Belum Jadi Penggerak Ekonomi Utama

Pengembangan kawasan wisata berbasis budaya kini semakin dipandang sebagai strategi alternatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu upaya yang mendapat perhatian adalah kajian dampak ekonomi pengembangan UMKM desa pendukung wisata di Kawasan Bukit Lawang, Kabupaten Langkat.

Inisiatif yang digagas Koperasi Jasa Usaha Pramuwisata Bukit Lawang dinilai menjadi langkah strategis karena menunjukkan kesadaran bahwa sektor pariwisata dan UMKM memiliki hubungan erat dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Meski demikian, pengembangan UMKM wisata di Bukit Lawang dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan serius. Dari perspektif akademik, kajian tersebut perlu dikritisi agar benar-benar menghasilkan rekomendasi kebijakan yang efektif dan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Pengembangan UMKM disebut tidak otomatis menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam banyak kasus destinasi wisata budaya di Indonesia, UMKM lokal masih sering hanya menjadi pelengkap aktivitas wisata dan belum menjadi aktor utama dalam rantai nilai ekonomi kawasan.

Kondisi ini terjadi karena lemahnya integrasi antara pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, dan sistem pemasaran modern. Akibatnya, banyak UMKM desa tetap bertahan dalam skala usaha mikro dengan nilai tambah yang rendah.

Persoalan kapasitas UMKM juga menjadi sorotan penting. Banyak pelaku usaha di kawasan wisata masih menghadapi keterbatasan akses modal, rendahnya literasi digital, standar produk yang belum konsisten, hingga sulitnya menembus pasar yang lebih luas.

Tanpa program peningkatan kapasitas yang sistematis, pengembangan UMKM dikhawatirkan hanya bersifat seremonial dan tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa sekitar kawasan wisata.

Selain itu, konektivitas ekonomi kawasan disebut menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengembangan wisata budaya. Infrastruktur ekonomi seperti akses transportasi, jaringan logistik, dan integrasi dengan ekosistem ekonomi kreatif maupun pariwisata regional masih menjadi kebutuhan utama.

Jika konektivitas kawasan lemah, potensi ekonomi Bukit Lawang dinilai tidak akan berkembang optimal meski jumlah UMKM terus bertambah.

Aspek pelestarian budaya juga menjadi perhatian besar dalam pengembangan ekonomi kawasan. Kawasan Wisata Bukit Lawang disebut sebagai salah satu situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Karena itu, pengembangan UMKM dan pariwisata harus berjalan dalam kerangka ekonomi berbasis konservasi. Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan budaya tidak boleh mengancam kelestarian situs sejarah yang ada.

Kajian dampak ekonomi yang dilakukan juga dinilai seharusnya tidak hanya mengukur kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara makro. Kajian perlu melihat sejauh mana manfaat ekonomi benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat desa.

Beberapa indikator penting yang perlu diperhatikan meliputi peningkatan pendapatan rumah tangga, penciptaan lapangan kerja lokal, hingga penguatan ekonomi desa secara berkelanjutan.

Diseminasi hasil kajian melalui opini surat kabar diharapkan tidak berhenti sebagai pemaparan hasil penelitian semata. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog antara akademisi, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan pengelola kawasan budaya untuk menyusun strategi pengembangan ekonomi kawasan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Burung Langka Gunung Leuser Jadi Harta Alam yang Kian Terancam

Bukit Lawang - Taman Nasional Gunung Leuser menjadi salah satu benteng terakhir bagi ratusan spesies burung langka di Sumatra. Kawasan hutan tropis ini tercatat...