Bukit Lawang – Bukit Lawang tetap menjadi salah satu destinasi wisata alam paling diminati di Sumatera Utara. Kawasan yang dikenal dengan sebutan “The Hidden Paradise of Sumatera” itu terus menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama pecinta alam liar dan petualangan hutan tropis.
Aktivitas tracking di tengah hutan masih menjadi daya tarik utama. Wisatawan juga menikmati tubing menyusuri sungai hingga wisata kampung yang memperlihatkan kehidupan masyarakat lokal.
Tamam, pemandu wisata lokal yang sudah lebih dari 30 tahun mendampingi turis di Bukit Lawang, mengatakan saat ini aturan konservasi orangutan diperketat. Salah satu aturan yang paling dijaga adalah larangan memberi makan orangutan liar.
Menurutnya, praktik memberi makan membuat orangutan bergantung pada manusia dan bertentangan dengan tujuan pelepasliaran satwa.
“Masyarakat internasional banyak yang tidak suka kalau orangutan terus-menerus dikasih makan. Programnya untuk melepasliarkan, bukan membuat mereka bergantung,” ujar Tamam saat mendampingi rombongan Familiarization Trip Langkat North Sumatera Utara bersama ASTINDO, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut serta wisatawan dari Singapura, Malaysia, dan Thailand di Bukit Lawang, Kamis 27 November 2025.
Karena itu, kawasan rehabilitasi orangutan kini ditutup dan wisatawan yang datang diminta menikmati pengalaman tracking tanpa kepastian melihat orangutan.
Tamam menjelaskan, satwa liar di Bukit Lawang sangat beragam. Selain orangutan, wisatawan juga berpeluang melihat siamang, Thomas leaf monkey, burung rangkong hingga burung kuau saat memasuki kawasan hutan.
Data lama Departemen Kehutanan mencatat populasi orangutan di kawasan Bukit Lawang diperkirakan masih berkisar 7.000 sampai 8.000 ekor. Hutan di kawasan itu juga menjadi habitat harimau Sumatera, badak Sumatera serta berbagai mamalia dan burung endemik lainnya.
Wisatawan mancanegara masih mendominasi kunjungan ke Bukit Lawang. Musim wisata tertinggi biasanya terjadi pada Juni hingga Agustus, bertepatan dengan musim panas di Eropa.
“Mayoritas tamu dari Belanda,” kata Tamam.
Sementara wisatawan domestik umumnya datang untuk menikmati sungai dan mandi-mandi. Namun sebagian juga mulai tertarik mencoba tracking hutan.
Selain tracking, Bukit Lawang menawarkan banyak aktivitas lain bagi wisatawan. Saat hujan turun dan jalur tracking tidak memungkinkan, wisatawan tetap bisa menikmati tubing di sungai maupun tur twilight melihat kehidupan masyarakat sekitar.
Dalam wisata kampung tersebut, wisatawan diajak melihat proses pembuatan gula merah, kerajinan lokal, industri rumahan tempe dan tahu hingga area persawahan warga.
Perjalanan dilakukan menggunakan becak kampung yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Setelah berkeliling, wisatawan dapat menikmati kelapa muda di restoran tepi sungai.
Bukit Lawang juga memiliki destinasi lain seperti Gua Kelelawar dan Sungai Landak. Di kawasan sungai itu wisatawan bisa makan siang sambil menikmati kejernihan air dan ikan-ikan sungai yang terlihat jelas.
Beragam aktivitas alam dan budaya itu membuat Bukit Lawang tetap menjadi destinasi favorit wisatawan. Meski cuaca hujan, kawasan wisata ini tetap menawarkan pengalaman dekat dengan alam yang sulit ditemukan di tempat lain.




